LEGENDA SUMBER AIR LAHURUS
(Oleh: Sr. Genoveva Bikan, SSpS dan Fr. Puplius Meinrad Buru, SVD)
1. Pendahuluan
Tulisan ini sengaja ditempatkan setelah cerita mengenai suku Melus karena legenda sumber air Lahurus sangat erat kaitannya dengan peristiwa pengusiran orang Melus. Tulisan ini berusaha merangkum tradisi lisan tentang munculnya sumber air Lahurus yang diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Upaya untuk menggali kebenaran dari para makoan adalah bukan hal yang mudah karena selain ada berbagai versi cerita adat, juga karena para penutur sejarah kadang menggunakan bahasa kiasan yang harus diinterpretasi lebih lanjut. Namun berkat bantuan dari berbagai kalangan di sini berhasil dirangkum satu tulisan dari cerita lisan yang didengar dari beberapa tua adat suku Leoklaran, serta dibandingkan dengan pandangan dari suku Leowes dan suku suku Astalin.
2. Latar Belakang Pengusiran Suku Melus
Pada awalnya wilayah sekitar kaki pegunungan Lakaan terutama di wilayah Dualasi-Lasiolat dihuni dua suku besar yakni suku Melus dan suku Leoklaran, kemudian datang lagi dua suku lainnya yakni Suku Leowes dan Astalin. Suku Melus adalah saudara tertua, dalam arti bahwa merekalah penghuni pertama dan Astalin dianggap adik. Meskipun Leoklaran pada awalya diakui sebagai uma metan (suku raja), hubungannya dengan suku Leowes dalam bahasa adat digambarkan sebagai la alin – la maun (arti harafiah: bukan adik-bukan kakak, arti politis: sama dan sederajat). Suku Melus pada awalnya berdomisli di sekitar bukit Lakmau (yang bernyala), sebuah bukit yang berdampingan dengan gunung Lakaan. Orang Melus sebagai saudara tertua menganggap diri sebagai pemilik tanah atau sebagai ema rai nain-ema foho nain. Mereka memiliki karakter yang kikir, tertutup tetapi sangat berani. Waktu itu orang Melus memiliki banyak meo (pahlawan) yang sangat berarti bagi suku Leoklaran yang awalnya berdomisili di Debuleok. Pada waktu itu ikatan persaudaran antara suku Melus dan suku Leoklaran lebih erat dibandingan dengan suku lainnya. Mereka kemudian hidup berpindah-pindah dan mulai menyebar di sekitar wilayah ini. Orang Leoklaran pun kemudian berpindah ke Dualasi dan dari tempat situ mereka berpindah lagi ke Haliketu Aina, juga di lereng gunung Lakaan. Banyak tua adat beranggapan bahwa pada awalnya kedua suku ini bergelar sama sebagai ema foho nain – ema rai nain (pemilik gunung dan tanah). Tetapi akibat persaingan politik, kemudian orang Leoklaran memilih untuk tidak mengklaim gelar itu karena ada ketakutan terhadap orang Leowes yang sangat pawai dalam berpolitik. Ketika leluhur dari suku Leowes dan Astalin datang di wilayah ini, mereka pun diterima sebagai saudara dan awalnya mereka hidup berdampingan secara damai. Tetapi orang Melus tetap dihormati dalam perannya sebagai saudara tertua, pemilik tanah dan gunung.
Peran suku Melus di atas kemudian membuat mereka sendiri menjadi sombong dan makin kikir, sehingga dalam bahasa kiasan orang mengatakan bahwa sampai kayu dan airpun harus dibeli dari orang Melus (we sosa, ai sosa: air dan kayu pun harus dibeli). Ini hanyalah bahasa kiasan untuk menyindir orang Melus. Semua suku lain ingin mengambil istri dari suku Melus agar mereka pun bisa menjadi pewaris tanah di wilayah ini, tetapi untuk itu mereka harus membayar belis yang mahal. Harta kekayaan telah habis untuk urusan kawin dengan ema rai nain, sehingga mereka disindir dengan bahasa kiasan: to'o we no ai mos sosa (samapi air dan kayu pun harus dibeli). Adapun orang Leowes yang datang kemudian sangat terkenal dengan kepintarannya dalam hal berpolitik. Mereka berambisi untuk memimpin wilayah ini tetapi hal ini pada awalnya agak sulit karena mereka baru datang kemudian di daerah ini. Pemimpin Leowes pun akhirnya mengatur syasat untuk menghilangkan suku Melus dan kalau mungkin juga suku Leoklaran supaya mereka bisa mengubah status mereka menjadi pemilik tanah dan gunung. Suatu ketika pemimpin Leowes pergi berburu dan ia pun berjumpa dengan pemimpin Asutalin yang juga sedang berburuh. Untuk memikul hasil buruan, mereka memotong kayu dan tumbuhan yang menjalar (Aiktalik) untuk dijadikan tali. Melihat Pemimpin suku Asutalin yang begitu berani membabat hutan, pemimpin suku Leowes berpikir "ema ne'e kala asu wain ida tebes" (mungkin dia adalah seorang pemberani). Pemimpin suku Leowes sengaja membuang bahasa kiasan (soe lian): "hei ita keta ta habeban hodi baba dei, maufinu ema rai – ema foho nain nase ita" (hei jangan terus membabat, jangan sampai tuan tanah/orang melus menegur kita"). Sang pemimpin suku Astalin menjawab dengan beraninya: "se mak ema rai nain iha ne'e e..." (siapa yang tuan tanah di sini). Melihat keberanian ini sang pemimpin suku Leowes berpikir mungkin suku ini bisa dipakai untuk melawan orang Melus. Lalu mereka bersumpah dan mengatur siasat untuk melenyapkan orang melus tanpa memberitahukan itu kepada suku Leoklaran. Dikatakan bahwa kesepakatan ini terjadi di Siata Mauhalek, dan dengan politik Siata Mauhalek ini mereka bisa menguasai daerah ini. Dalam bahasa adat dikenal dengan istilah: "neebe ita baku filas an halo ba tuna rai nain, tae filas an halo ba boek we nain.” (istilah politik: supaya kita mengubah diri menjadi belut pemilik tanah, dan udang pemilik air" artinya agar kita menjadi pemilik tanah, menjadi ema rai nain).
Suku Melus memiliki dua pemimpin yang terkenal yaitu Lete Luan dan Loli Luan. Pemimpin Astalin dan Leowes mengajak Lete Luan dan Loli Luan untuk berburu dan menempah besi. Pemimpin Leowes dan Loli Luan pergi menempah besi sedangkan Astalin dan Lete Luan pergi berburu. Pemimpin Astalin kemudian berlari mendahului Lete Luan dan menggaruk kulit sebuah pohon dan meninggalkan bekas seperti garukan seperti musang, lalu kembali menjumpai Lete Luan dan berkata,” saya melihat ada bekas garukan musang pada pohon.” Mereka menuju ke pohon itu dan benar ada bekas garukan itu. Terjadilah saling uji siapa yang bisa panjat pohon. Pemimpin Astalin berkata kepada Lete Luan, "ita keta sae, maufinu ita monu, ema naak sa ba hau" (anda jangan memanjat, nanti kalau terjadi kecelakan, apa yang akan dikatakan orang pada saya). Lete Luan merasa dihargai dan membiarkan sang Pemimpin Astalin memanjat pohon dan Lete Luan memberi tombak dari bawah. Tetapi saat memberikan tombak pemimpin Astalin mengatakan "ita taka matan no keta hanat sae mai, maufinu ai hoar monu tama ita matan" (tidak boleh melihat ke atas takut kotoran jatuh kena mata). Hal ini pun dituruti. Pemimpin Astalin kemudian menerima tombak itu lalu menikam Lete Luan dari atas pohon. Lete Luan tewas lalu dia turun dan memenggal kepalanya. Kemudian ia kembali ke Laliulunren (Klokes-Haliren) mendapati Pemimpin Leowes dan Loli Luan yang sedang asyik menepah besi. Ia menyembunyikan kepala Lete Luan. Pemimpin Leowes sedang menampah besi sedangkan Loli Luan menjaga api. Astalin kemudian mengambil alih pemukul dan meminta Loli Luan tetap memasang api. Lalu kata Astalin kepada Loli Luan,”sorong sedikit kalau tidak bunga api kena kamu.” Ketika ia mundur mendekati Pemimpin Astalin, ia segera menyambut dengan ayunan pemukul tepat di ke kepala Loli Luan dan ia pun tewas seketika itu juga. Setelah kedua pemimpin mereka tewas orang Melus menjadi ketakutan. Sebagian dari mereka kemudian diusir ke Fatukrau, di sana kerbau mereka berubah jadi batu (di Fattara sekarang). Mereka kemudian mengusir semua orang Melus yang menghuni wilayah ini ke arah laut lewat Uruai di dekat Aitemuk sekarang sambil mengatakan: halo ba nemu tasi wen, na nu matan (agar mereka minum air laut dan makan mata kelapa, artinya: sampai punah).
Kemudian para pahlawan Astalin dan Leowes pulang dan ketika tiba di Wemok-Motaain yang dikenal sebagai tasi nawan, di mana ada pertemuan kali Baukama dan Talau, mereka beristirahat di bawah pohon karena panas. Mereka nasas naran (memuji diri), sambil menggambarkan situasi atau semangat mereka ’katar nu maek.” (sangat gatal). Lalu mereka terus dan sampai di Beikoti mereka mendengar Nai Leoklaran mengadakan pesta (Nalo duuk dahur no limar) di Haliketu Aina. Mereka tiba di tempat pesta dan menegur Nai Leoklaran,” O larona, o malo duuk dahur no limar, hau kodi ema ai nain fatu nain ba duni lakon.” (Engkau tidak dengar, engkau berpesta pora sementara saya mengusir tuan tanah samapai hilang lenyap). Nai Leoklaran keluar dan merangkul mereka dan berkata,” Hau koi kalo dahur no limar nee, halo tan ali dahur ali bui taka mata ai balun. (Saya berpesta pora karena hasil dari lebah dan kayu cendana sangat berlimpah). Mereka kemudian saling merangkul dan masuk ke dalam rumah. Ternyata Nai Leoklaran menyembunyikan dua orang Melus di atas loteng, ditutup dengan bakul (taka hodi naha), seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mengetahui kedatangan orang Leowes dan Astalin keduanya takut sampai kencing dan mengalir ke bawah. Melihat air mengalir mereka bertanya, "siapa yang kencing?” Jawab Nai Leoklaran,”Itu kucing yang kencing.” Mereka bertiga kemudian bersumpah dengan minum darah mereka, nemu malu ran’ untuk mengikat tali persaudaraan di antara mereka.
3. Kuasa Nai Leoklaran Diuji
Astalin lalu melanjutkan perjalanan ke Dualasi (Lakmau). Leowes kemudian tinggal bersama Leoklaran di dekat Haliketu Aina (di Baiboke dan di bukit yang kemudian dinamakan Baueku Leowes, dan kemudian Astalin pun datang untuk berdiam juga di dekat situ, di bukit Fatubesi). Mereka hidup dari bercocok tanam. Sebagian suku Melus masih bertahan di Loosakaer dan Aiurakren (kedua tempat ini berada di dekat Lahurus sekarang). Orang Leowes mengetahui bahwa orang Melus masih ada di dua kota ini dan orang Leoklaran membiarkan mereka tetap hidup di situ, alasanya karena mereka hidup berbaur dengan orang Leoklaran dan sebenarnya kebanyakan dari mereka telah berdarah Leoklaran. Orang Leowes pun kembali mengatur siasat dengan memprovokasi orang Astalin untuk menekan orang Leoklaran dan mencobai kehebatan Nai Leoklaran. Mereka pergi ke Haliketu Aina, tempat orang Leoklaran bediam. Di sana orang Leowes berkata kepada nai Leoklaran: “Ohin naak ita nai tebe-tebes modi is no beran malakon tia kota Loosakaer na kota Aiurakren,” (Bila engkau benar raja, gunakan kuasamu untuk melenyapkan kampung Loosakaer dan Aiurakren).
4. Upaya Leoklaran dan Cerita Munculnya Sumber Air Lahurus
Nai Leoklaran tidak menyahut dan tidak marah dalam menghadapi cobaan tersebut. Adapun Nai Leoklaran waktu itu bernama Nai Dasi Bau Iku(n). Ia berusaha menunjukan kekuasaan magis yang dimilikinya. Pada malam harinya Nai Dasi Bau Iku mendapat suatu petunjuk dari leluhur lewat mimpi, di mana ia diperintahkan untuk melakukan sesuatu, dan iapun mengikutinya. Menjelang subuh diambillah seorang hamba perempuan dari suku Melus, dihiasi dengan perhiasan emas dan sofren. Dengan bekal secukupnya mereka berangkat ke arah timur. Mereka berjalan dan terus berjalan sampai di sebuah mata air besar di Korluli Bau Sain di wilayah Timor Lorosae sekarang. Ketika mereka tiba di sumber air besar di tempat itu, mereka beristirahat lalu makan bekal yang dibawa. Sesudah makan disuruhnya hamba itu mengambil air untuk diminum. Disuruhnya hamba itu sampai di tempat yang lebih dalam namun Nai Dasi Bau Iku tidak melihat tanda-tanda dari dalam air. Hamba itu keluar dan merekapun kembali ke Haliketu Aina. Ia mencari petunjuk leluhur dan akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus membawa seorang putri berdarah raja (dasi ran).
Nai Dasi Bau Iku memiliki seorang putri bernama Dasi Kolo Bauk. Beberapa waktu kemudian ia mengajak putrinya itu untuk berjalan-jalan dengan mengenakan perhiasan emas dan morten. Puterinya bertanya,” Mangapa saya dihias? Kita mau bertemu dengan siapa?” Jawabnya,”Kita pergi bertemu seorang raja besar.” Berangkatlah mereka menuju tempat yang sama, yakni Korluli Bau Sain. Mereka berjalan mengikuti petunjuk bintang dan sampailah mereka di tempat itu lalu mereka beristirahat dan makan. Karena sedih bahwa dia akan memberikan putrinya untuk mendapatkan air magis dari leluhur, Dasi Bau Iku makan sambil meneteskan air mata dan hal ini dilihat putrinya. Dasi Kolo Bauk bertanya,” Mengapa ayah menangis?” Jawabnya,” Tidak anakku, hanya kotoran yang masuk di mata.” Sehabis makan Dasi Bau Iku menyuruh putrinya mengambil air untuk diminum. Dia masuk sampai kedalaman air mencapai lututnya, lalu dia bertanya kepada ayahnya "di sini kah saya menimba air untuk diminum?" "tidak " jawab ayahnya "masuk terus ke tempat yang agak dalam". Lalu ia masuk sampai ketinggian air mencapai pinggangnya lalu hendak menimba air di situ tetapi ayahnya menyuruh agar ia masuk lagi ke tempat yang agak dalam. Ketika kedalaman air mencapai dada dan leher, tiba-tiba Nai Dasi Bau Iku melihat air mulai bergoncang seperti mendidih sampai menenggelamkan Dasi Kolo Bauk. Seketika itu terdengarlah bunyi genderang dan gong, bunyi tari-tarian menyambut putrinya. Ia menunggu sambil menangis, pikirnya jangan sampai putrinya kembali. Namun selang beberapa lama muncul dari dalam air sebuah guci kecil berisi air (riuk oan) yang diletakkan di atas sebuah plat emas (belak mean). Benda itu terapung dan bergerak ke tempat di mana ia berdiri. Ia mengambilnya, memasukan itu dalam kain gendongan (kous nola-dadula nola) lalu ia bergegas pulang.
Dalam perjalanan Nai Dasi Bau Iku terantuk di beberapa tempat dan air dalam guci terpercik keluar mengenai tanah. Di tempat-tempat yang terkena percikan air itu kemudian muncul sebuah sumber air; di Haekesak (We Bot), di Mahein (We Tihu), We Maruut (tempat ini memakan korban satu orang), di Nuren dan We Mali. Di dekat Ai urak, yakni di tempat yang bernama Fohomot sekarang, ia meletakkan guci itu di atas sebuah bukit lalu beristirahat sejenak. Tetapi kemudian tempat itu tiba-tiba tenggelam dan muncullah sebuat danau yang sampai sekarang dinamakan "Fohomot" (dari kata foho mout, artinya bukit yang tenggelam). Lalu ia berjalan terus. Sampai di tempat yang kemudian dinamakan Debu Derok, sekitar 1KM dari kampung Ai Urak (Ulumutik Aiurak), ia berhenti dan berbaring sejenak sambil menunggu sampai orang Melus tidur pulas. Di sini pun muncul satu mata air yang kemudian dinamakan Debu Derok. Menjelang tengah malam ia bergegas ke perkampungan orang Melus. Sampai di sana, di Aiurak ia mengambil sebuah lesung, meletakkan di situ lalu menuangkan air dari guci ke dalam lesung itu sambil bernasar (nodi dale no totar tan). Ia mengikat seekor anjing hitam (ada yang mengatakan seorang hamba) bernama Meta pada lesung itu lalu meninggalkannya. Ia kemudian pergi ke sebuah bukit di sebelah Aiurak. Dari atas bukit itu ia memanggil anjing itu sampai tujuh kali,” Eiiii……Meta.” (Bukit itu sampai sekarang dinamakan Bei Meta Ren: bukit leluhur Meta, menjadi milik orang Leowes). Anjing itu terkejut dan berusaha berlari dan ketika itu lesung tersebut jatuh dan air di dalamnya pun tumpah. Mulai saat itu terjadilah hujan siang malam (selama tujuh hari), terjadi gempa bumi yang dasyat akibatnya terjadi longsor yang besar sehingga kota Aiurak dan Loosakaer tempat orang Melus berdiam diluluhlantakkan bersama orang-orang Melus. Orang Melus dan tanaman kelapa di Aiurak dibawah banjir dan longsor sampai ke Mota Bot dan tempat itu kemudian dinamakan Nusorat ("kelapa yang digeser", tanah itu sampai sekarang milik orang Leoklaran dari suku Klaranetu-Lianain). Setelah kedua kota dan semua penghuninya lenyap hujan mulai redah dan berhenti. Sebagai akibat, di dekat Aiurak, muncul satu sumber air besar yang memberi kehidupan dan kesuburan di daerah itu dan tempat itu kemudian ditumbuhi hutan lebat, yang tidak tembus pandang atau sulit dilewati manusia. Hutan itu lalu dinamakan Laborus (tidak tembus) yang kemudian berubah lafal menjadi Lahurus, nama sumber air yang terkenal itu.
5. Penutup
Dengan hilangnya suku Melus maka peran suku Leowes kemudian makin bertambah dan merekapun makin disegani. Keturunan dari ketiga suku ini ini kemudian mendirikan lagi beberapa suku (kuda uma) seperti Lianain dan Datoklaran. Persaingan politik antara Leowes dan Leoklaran kemudian semakin meningkat. Dengan berbagai siasat akhirnya orang Leowes berhasil mendapatkan gelar uma metan (suku Nai/raja, sampai sekarang), sedangkan Astalin menjadi penjaga keamanan di wilayah ini. Tetapi dengan itu mereka tidak puas selama "ema rai nain" masih hidup bersama mereka. Ema rai nain yang dimaksudkan sekarang adalah orang Leoklaran dan sisa-sisa turunan Melus yang berbaur bersama orang Leoklaran. Meski banyak dari mereka sudah kawin campur, tetapi mereka belum mampu menguasai orang Leoklaran yang jumlahnya sangat banyak. Mereka kemudian mengatur berbagai siasat untuk mengusir orang Leoklaran, terutama yang berdiam di Haliketu Aina dan Kampung Aiurak (Ulumutik Aiurak – di Lahurus sekarang, yang awalnya adalah perkampungan orang Melus tetapi setelah orang Melus diusir, tempat ini kemudian dihuni orang Leoklaran). Orang Leoklaran di beberapa perkampungan di Dualasi-Lasiolat akhirnya berhasil diusir, dan mereka itu terutama berlari ke wilayah Lakekun dan ke Alas. Sebagian lagi berlari ke Tasi (ke Silawan dan sekitarnya). Hanya sebagian kecil orang Leoklaran yang tidak diusir (terutama karena mereka sudah kawin mawin dengan orang Leowes), tetapi mereka ini kemudian pergi menetap di Sanirin (dekat Ai Kamelin Ren, di mana orang Melus masih menetap), tetapi ada kelompok lain yang tetap menetap di Dualasi. Kelompok Sanirin kemudian pindah ke Beikoti lalu ke Lenok Fehan, tetapi karena merasa tidak aman sebagian dari merekapun akhirnya pergi ke Leun (Nubelu) dan menetap di sana. Hanya sebagian turunan mereka yang kembali dan menetap di Lahurus dan sekitarnya, mereka ini kemudian menamakan diri Leoklaran uma (ema) tur hein. Yang di Dualasi kemudian pergi menetap di Bernaba, dan turunan mereka akhirnya mendirikan kembali suku Leoklaran Bernaba.
Konon, setelah pristiwa Ulumutik Aiurak tahap kedua (pertama: pengusiran orang Melus, kedua: pengusiran leluhur Leoklaran), bencana kekeringan melanda wilayah Fialaran, sampai dikatakan bahwa "hare abut la susu rai, batar la samara mean, Ai kamelin la isin, wani la no wen" (akar padi tidak menyusup ke dalam tanah dan jagung tidak berbunga – cendana tidak ada hasil dan lebah tidak ada madu). Kemudian diketahui penyebab masalah itu, yakni bahwa karena "ema rai nain" sudah diusir dan mereka membawa serta foho bot rai bot atau lulik manaran bot yang dianggap menjadi benda pusaka yang memberi berkah kepada penghuni wilayah ini. Adapun kelompok yang berlari ke Alas membawa serta pusaka keramat itu. Kelompok ini kemudian diundang kembali ke Fialaran, dan mereka ini diterima kembali secara adat "hisik baku hikar" oleh Nai Lafuli Nain di Lafuli (Fatluli). Mereka kemudian menetap di We Sosar di kaki gunung Lakaan dekat Haliketu Aina. Sebagian dari mereka kemudian kembali ke Alas karena merasa tidak kerasan. Sebagian tetap menetap di sana, kemudian mereka berpindah juga ke Lahurus dan mendirikan kembali Suku Leoklaran (uma hadak). Kepada mereka kemudian dibagikan kembali rai mara no We leon (sawah dan landang) agar mereka tetap menetap di sini untuk menjaga foho bot rai bot (pusaka keramat leluhur) dan sumber air Lahurus.
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen
LEBO AMA NO LEBO INA
r karawa sia too'
ohin loron nee'.
Komentar