Über diesen Blog

Kalender

November 2009
M D M D F S S
            1
2 3 4 5 6 7 8
9 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30            
<< < > >>

Komentar

Freitag, 30. oktober 2009
 

LEGENDA SUMBER AIR LAHURUS


(Oleh: Sr. Genoveva Bikan, SSpS dan Fr. Puplius Meinrad Buru, SVD)


1. Pendahuluan

Tulisan ini sengaja ditempatkan setelah cerita mengenai suku Melus karena legenda sumber air Lahurus sangat erat kaitannya dengan peristiwa pengusiran orang Melus. Tulisan ini berusaha merangkum tradisi lisan tentang munculnya sumber air Lahurus yang diwariskan secara turun temurun hingga saat ini. Upaya untuk menggali kebenaran dari para makoan adalah bukan hal yang mudah karena selain ada berbagai versi cerita adat, juga karena para penutur sejarah kadang menggunakan bahasa kiasan yang harus diinterpretasi lebih lanjut. Namun berkat bantuan dari berbagai kalangan di sini berhasil dirangkum satu tulisan dari cerita lisan yang didengar dari beberapa tua adat suku Leoklaran, serta dibandingkan dengan pandangan dari suku Leowes dan suku suku Astalin.


2. Latar Belakang Pengusiran Suku Melus

Pada awalnya wilayah sekitar kaki pegunungan Lakaan terutama di wilayah Dualasi-Lasiolat dihuni dua suku besar yakni suku Melus dan suku Leoklaran, kemudian datang lagi dua suku lainnya yakni Suku Leowes dan Astalin. Suku Melus adalah saudara tertua, dalam arti bahwa merekalah penghuni pertama dan Astalin dianggap adik. Meskipun Leoklaran pada awalya diakui sebagai uma metan (suku raja), hubungannya dengan suku Leowes dalam bahasa adat digambarkan sebagai la alin – la maun (arti harafiah: bukan adik-bukan kakak, arti politis: sama dan sederajat). Suku Melus pada awalnya berdomisli di sekitar bukit Lakmau (yang bernyala), sebuah bukit yang berdampingan dengan gunung Lakaan. Orang Melus sebagai saudara tertua menganggap diri sebagai pemilik tanah atau sebagai ema rai nain-ema foho nain. Mereka memiliki karakter yang kikir, tertutup tetapi sangat berani. Waktu itu orang Melus memiliki banyak meo (pahlawan) yang sangat berarti bagi suku Leoklaran yang awalnya berdomisili di Debuleok. Pada waktu itu ikatan persaudaran antara suku Melus dan suku Leoklaran lebih erat dibandingan dengan suku lainnya. Mereka kemudian hidup berpindah-pindah dan mulai menyebar di sekitar wilayah ini. Orang Leoklaran pun kemudian berpindah ke Dualasi dan dari tempat situ mereka berpindah lagi ke Haliketu Aina, juga di lereng gunung Lakaan. Banyak tua adat beranggapan bahwa pada awalnya kedua suku ini bergelar sama sebagai ema foho nain – ema rai nain (pemilik gunung dan tanah). Tetapi akibat persaingan politik, kemudian orang Leoklaran memilih untuk tidak mengklaim gelar itu karena ada ketakutan terhadap orang Leowes yang sangat pawai dalam berpolitik. Ketika leluhur dari suku Leowes dan Astalin datang di wilayah ini, mereka pun diterima sebagai saudara dan awalnya mereka hidup berdampingan secara damai. Tetapi orang Melus tetap dihormati dalam perannya sebagai saudara tertua, pemilik tanah dan gunung.

Peran suku Melus di atas kemudian membuat mereka sendiri menjadi sombong dan makin kikir, sehingga dalam bahasa kiasan orang mengatakan bahwa sampai kayu dan airpun harus dibeli dari orang Melus (we sosa, ai sosa: air dan kayu pun harus dibeli). Ini hanyalah bahasa kiasan untuk menyindir orang Melus. Semua suku lain ingin mengambil istri dari suku Melus agar mereka pun bisa menjadi pewaris tanah di wilayah ini, tetapi untuk itu mereka harus membayar belis yang mahal. Harta kekayaan telah habis untuk urusan kawin dengan ema rai nain, sehingga mereka disindir dengan bahasa kiasan: to'o we no ai mos sosa (samapi air dan kayu pun harus dibeli). Adapun orang Leowes yang datang kemudian sangat terkenal dengan kepintarannya dalam hal berpolitik. Mereka berambisi untuk memimpin wilayah ini tetapi hal ini pada awalnya agak sulit karena mereka baru datang kemudian di daerah ini. Pemimpin Leowes pun akhirnya mengatur syasat untuk menghilangkan suku Melus dan kalau mungkin juga suku Leoklaran supaya mereka bisa mengubah status mereka menjadi pemilik tanah dan gunung. Suatu ketika pemimpin Leowes pergi berburu dan ia pun berjumpa dengan pemimpin Asutalin yang juga sedang berburuh. Untuk memikul hasil buruan, mereka memotong kayu dan tumbuhan yang menjalar (Aiktalik) untuk dijadikan tali. Melihat Pemimpin suku Asutalin yang begitu berani membabat hutan, pemimpin suku Leowes berpikir "ema ne'e kala asu wain ida tebes" (mungkin dia adalah seorang pemberani). Pemimpin suku Leowes sengaja membuang bahasa kiasan (soe lian): "hei ita keta ta habeban hodi baba dei, maufinu ema rai – ema foho nain nase ita" (hei jangan terus membabat, jangan sampai tuan tanah/orang melus menegur kita"). Sang pemimpin suku Astalin menjawab dengan beraninya: "se mak ema rai nain iha ne'e e..." (siapa yang tuan tanah di sini). Melihat keberanian ini sang pemimpin suku Leowes berpikir mungkin suku ini bisa dipakai untuk melawan orang Melus. Lalu mereka bersumpah dan mengatur siasat untuk melenyapkan orang melus tanpa memberitahukan itu kepada suku Leoklaran. Dikatakan bahwa kesepakatan ini terjadi di Siata Mauhalek, dan dengan politik Siata Mauhalek ini mereka bisa menguasai daerah ini. Dalam bahasa adat dikenal dengan istilah: "neebe ita baku filas an halo ba tuna rai nain, tae filas an halo ba boek we nain.” (istilah politik: supaya kita mengubah diri menjadi belut pemilik tanah, dan udang pemilik air" artinya agar kita menjadi pemilik tanah, menjadi ema rai nain).

Suku Melus memiliki dua pemimpin yang terkenal yaitu Lete Luan dan Loli Luan. Pemimpin Astalin dan Leowes mengajak Lete Luan dan Loli Luan untuk berburu dan menempah besi. Pemimpin Leowes dan Loli Luan pergi menempah besi sedangkan Astalin dan Lete Luan pergi berburu. Pemimpin Astalin kemudian berlari mendahului Lete Luan dan menggaruk kulit sebuah pohon dan meninggalkan bekas seperti garukan seperti musang, lalu kembali menjumpai Lete Luan dan berkata,” saya melihat ada bekas garukan musang pada pohon.” Mereka menuju ke pohon itu dan benar ada bekas garukan itu. Terjadilah saling uji siapa yang bisa panjat pohon. Pemimpin Astalin berkata kepada Lete Luan, "ita keta sae, maufinu ita monu, ema naak sa ba hau" (anda jangan memanjat, nanti kalau terjadi kecelakan, apa yang akan dikatakan orang pada saya). Lete Luan merasa dihargai dan membiarkan sang Pemimpin Astalin memanjat pohon dan Lete Luan memberi tombak dari bawah. Tetapi saat memberikan tombak pemimpin Astalin mengatakan "ita taka matan no keta hanat sae mai, maufinu ai hoar monu tama ita matan" (tidak boleh melihat ke atas takut kotoran jatuh kena mata). Hal ini pun dituruti. Pemimpin Astalin kemudian menerima tombak itu lalu menikam Lete Luan dari atas pohon. Lete Luan tewas lalu dia turun dan memenggal kepalanya. Kemudian ia kembali ke Laliulunren (Klokes-Haliren) mendapati Pemimpin Leowes dan Loli Luan yang sedang asyik menepah besi. Ia menyembunyikan kepala Lete Luan. Pemimpin Leowes sedang menampah besi sedangkan Loli Luan menjaga api. Astalin kemudian mengambil alih pemukul dan meminta Loli Luan tetap memasang api. Lalu kata Astalin kepada Loli Luan,”sorong sedikit kalau tidak bunga api kena kamu.” Ketika ia mundur mendekati Pemimpin Astalin, ia segera menyambut dengan ayunan pemukul tepat di ke kepala Loli Luan dan ia pun tewas seketika itu juga. Setelah kedua pemimpin mereka tewas orang Melus menjadi ketakutan. Sebagian dari mereka kemudian diusir ke Fatukrau, di sana kerbau mereka berubah jadi batu (di Fattara sekarang). Mereka kemudian mengusir semua orang Melus yang menghuni wilayah ini ke arah laut lewat Uruai di dekat Aitemuk sekarang sambil mengatakan: halo ba nemu tasi wen, na nu matan (agar mereka minum air laut dan makan mata kelapa, artinya: sampai punah).

Kemudian para pahlawan Astalin dan Leowes pulang dan ketika tiba di Wemok-Motaain yang dikenal sebagai tasi nawan, di mana ada pertemuan kali Baukama dan Talau, mereka beristirahat di bawah pohon karena panas. Mereka nasas naran (memuji diri), sambil menggambarkan situasi atau semangat mereka ’katar nu maek.” (sangat gatal). Lalu mereka terus dan sampai di Beikoti mereka mendengar Nai Leoklaran mengadakan pesta (Nalo duuk dahur no limar) di Haliketu Aina. Mereka tiba di tempat pesta dan menegur Nai Leoklaran,” O larona, o malo duuk dahur no limar, hau kodi ema ai nain fatu nain ba duni lakon.” (Engkau tidak dengar, engkau berpesta pora sementara saya mengusir tuan tanah samapai hilang lenyap). Nai Leoklaran keluar dan merangkul mereka dan berkata,” Hau koi kalo dahur no limar nee, halo tan ali dahur ali bui taka mata ai balun. (Saya berpesta pora karena hasil dari lebah dan kayu cendana sangat berlimpah). Mereka kemudian saling merangkul dan masuk ke dalam rumah. Ternyata Nai Leoklaran menyembunyikan dua orang Melus di atas loteng, ditutup dengan bakul (taka hodi naha), seorang laki-laki dan seorang perempuan. Mengetahui kedatangan orang Leowes dan Astalin keduanya takut sampai kencing dan mengalir ke bawah. Melihat air mengalir mereka bertanya, "siapa yang kencing?” Jawab Nai Leoklaran,”Itu kucing yang kencing.” Mereka bertiga kemudian bersumpah dengan minum darah mereka, nemu malu ran’ untuk mengikat tali persaudaraan di antara mereka.

 


3. Kuasa Nai Leoklaran Diuji

Astalin lalu melanjutkan perjalanan ke Dualasi (Lakmau). Leowes kemudian tinggal bersama Leoklaran di dekat Haliketu Aina (di Baiboke dan di bukit yang kemudian dinamakan Baueku Leowes, dan kemudian Astalin pun datang untuk berdiam juga di dekat situ, di bukit Fatubesi). Mereka hidup dari bercocok tanam. Sebagian suku Melus masih bertahan di Loosakaer dan Aiurakren (kedua tempat ini berada di dekat Lahurus sekarang). Orang Leowes mengetahui bahwa orang Melus masih ada di dua kota ini dan orang Leoklaran membiarkan mereka tetap hidup di situ, alasanya karena mereka hidup berbaur dengan orang Leoklaran dan sebenarnya kebanyakan dari mereka telah berdarah Leoklaran. Orang Leowes pun kembali mengatur siasat dengan memprovokasi orang Astalin untuk menekan orang Leoklaran dan mencobai kehebatan Nai Leoklaran. Mereka pergi ke Haliketu Aina, tempat orang Leoklaran bediam. Di sana orang Leowes berkata kepada nai Leoklaran: “Ohin naak ita nai tebe-tebes modi is no beran malakon tia kota Loosakaer na kota Aiurakren,” (Bila engkau benar raja, gunakan kuasamu untuk melenyapkan kampung Loosakaer dan Aiurakren).


4. Upaya Leoklaran dan Cerita Munculnya Sumber Air Lahurus

Nai Leoklaran tidak menyahut dan tidak marah dalam menghadapi cobaan tersebut. Adapun Nai Leoklaran waktu itu bernama Nai Dasi Bau Iku(n). Ia berusaha menunjukan kekuasaan magis yang dimilikinya. Pada malam harinya Nai Dasi Bau Iku mendapat suatu petunjuk dari leluhur lewat mimpi, di mana ia diperintahkan untuk melakukan sesuatu, dan iapun mengikutinya. Menjelang subuh diambillah seorang hamba perempuan dari suku Melus, dihiasi dengan perhiasan emas dan sofren. Dengan bekal secukupnya mereka berangkat ke arah timur. Mereka berjalan dan terus berjalan sampai di sebuah mata air besar di Korluli Bau Sain di wilayah Timor Lorosae sekarang. Ketika mereka tiba di sumber air besar di tempat itu, mereka beristirahat lalu makan bekal yang dibawa. Sesudah makan disuruhnya hamba itu mengambil air untuk diminum. Disuruhnya hamba itu sampai di tempat yang lebih dalam namun Nai Dasi Bau Iku tidak melihat tanda-tanda dari dalam air. Hamba itu keluar dan merekapun kembali ke Haliketu Aina. Ia mencari petunjuk leluhur dan akhirnya ia mengetahui bahwa ia harus membawa seorang putri berdarah raja (dasi ran).

Nai Dasi Bau Iku memiliki seorang putri bernama Dasi Kolo Bauk. Beberapa waktu kemudian ia mengajak putrinya itu untuk berjalan-jalan dengan mengenakan perhiasan emas dan morten. Puterinya bertanya,” Mangapa saya dihias? Kita mau bertemu dengan siapa?” Jawabnya,”Kita pergi bertemu seorang raja besar.” Berangkatlah mereka menuju tempat yang sama, yakni Korluli Bau Sain. Mereka berjalan mengikuti petunjuk bintang dan sampailah mereka di tempat itu lalu mereka beristirahat dan makan. Karena sedih bahwa dia akan memberikan putrinya untuk mendapatkan air magis dari leluhur, Dasi Bau Iku makan sambil meneteskan air mata dan hal ini dilihat putrinya. Dasi Kolo Bauk bertanya,” Mengapa ayah menangis?” Jawabnya,” Tidak anakku, hanya kotoran yang masuk di mata.” Sehabis makan Dasi Bau Iku menyuruh putrinya mengambil air untuk diminum. Dia masuk sampai kedalaman air mencapai lututnya, lalu dia bertanya kepada ayahnya "di sini kah saya menimba air untuk diminum?" "tidak " jawab ayahnya "masuk terus ke tempat yang agak dalam". Lalu ia masuk sampai ketinggian air mencapai pinggangnya lalu hendak menimba air di situ tetapi ayahnya menyuruh agar ia masuk lagi ke tempat yang agak dalam. Ketika kedalaman air mencapai dada dan leher, tiba-tiba Nai Dasi Bau Iku melihat air mulai bergoncang seperti mendidih sampai menenggelamkan Dasi Kolo Bauk. Seketika itu terdengarlah bunyi genderang dan gong, bunyi tari-tarian menyambut putrinya. Ia menunggu sambil menangis, pikirnya jangan sampai putrinya kembali. Namun selang beberapa lama muncul dari dalam air sebuah guci kecil berisi air (riuk oan) yang diletakkan di atas sebuah plat emas (belak mean). Benda itu terapung dan bergerak ke tempat di mana ia berdiri. Ia mengambilnya, memasukan itu dalam kain gendongan (kous nola-dadula nola) lalu ia bergegas pulang.

Dalam perjalanan Nai Dasi Bau Iku terantuk di beberapa tempat dan air dalam guci terpercik keluar mengenai tanah. Di tempat-tempat yang terkena percikan air itu kemudian muncul sebuah sumber air; di Haekesak (We Bot), di Mahein (We Tihu), We Maruut (tempat ini memakan korban satu orang), di Nuren dan We Mali. Di dekat Ai urak, yakni di tempat yang bernama Fohomot sekarang, ia meletakkan guci itu di atas sebuah bukit lalu beristirahat sejenak. Tetapi kemudian tempat itu tiba-tiba tenggelam dan muncullah sebuat danau yang sampai sekarang dinamakan "Fohomot" (dari kata foho mout, artinya bukit yang tenggelam). Lalu ia berjalan terus. Sampai di tempat yang kemudian dinamakan Debu Derok, sekitar 1KM dari kampung Ai Urak (Ulumutik Aiurak), ia berhenti dan berbaring sejenak sambil menunggu sampai orang Melus tidur pulas. Di sini pun muncul satu mata air yang kemudian dinamakan Debu Derok. Menjelang tengah malam ia bergegas ke perkampungan orang Melus. Sampai di sana, di Aiurak ia mengambil sebuah lesung, meletakkan di situ lalu menuangkan air dari guci ke dalam lesung itu sambil bernasar (nodi dale no totar tan). Ia mengikat seekor anjing hitam (ada yang mengatakan seorang hamba) bernama Meta pada lesung itu lalu meninggalkannya. Ia kemudian pergi ke sebuah bukit di sebelah Aiurak. Dari atas bukit itu ia memanggil anjing itu sampai tujuh kali,” Eiiii……Meta.” (Bukit itu sampai sekarang dinamakan Bei Meta Ren: bukit leluhur Meta, menjadi milik orang Leowes). Anjing itu terkejut dan berusaha berlari dan ketika itu lesung tersebut jatuh dan air di dalamnya pun tumpah. Mulai saat itu terjadilah hujan siang malam (selama tujuh hari), terjadi gempa bumi yang dasyat akibatnya terjadi longsor yang besar sehingga kota Aiurak dan Loosakaer tempat orang Melus berdiam diluluhlantakkan bersama orang-orang Melus. Orang Melus dan tanaman kelapa di Aiurak dibawah banjir dan longsor sampai ke Mota Bot dan tempat itu kemudian dinamakan Nusorat ("kelapa yang digeser", tanah itu sampai sekarang milik orang Leoklaran dari suku Klaranetu-Lianain). Setelah kedua kota dan semua penghuninya lenyap hujan mulai redah dan berhenti. Sebagai akibat, di dekat Aiurak, muncul satu sumber air besar yang memberi kehidupan dan kesuburan di daerah itu dan tempat itu kemudian ditumbuhi hutan lebat, yang tidak tembus pandang atau sulit dilewati manusia. Hutan itu lalu dinamakan Laborus (tidak tembus) yang kemudian berubah lafal menjadi Lahurus, nama sumber air yang terkenal itu.


5. Penutup

Dengan hilangnya suku Melus maka peran suku Leowes kemudian makin bertambah dan merekapun makin disegani. Keturunan dari ketiga suku ini ini kemudian mendirikan lagi beberapa suku (kuda uma) seperti Lianain dan Datoklaran. Persaingan politik antara Leowes dan Leoklaran kemudian semakin meningkat. Dengan berbagai siasat akhirnya orang Leowes berhasil mendapatkan gelar uma metan (suku Nai/raja, sampai sekarang), sedangkan Astalin menjadi penjaga keamanan di wilayah ini. Tetapi dengan itu mereka tidak puas selama "ema rai nain" masih hidup bersama mereka. Ema rai nain yang dimaksudkan sekarang adalah orang Leoklaran dan sisa-sisa turunan Melus yang berbaur bersama orang Leoklaran. Meski banyak dari mereka sudah kawin campur, tetapi mereka belum mampu menguasai orang Leoklaran yang jumlahnya sangat banyak. Mereka kemudian mengatur berbagai siasat untuk mengusir orang Leoklaran, terutama yang berdiam di Haliketu Aina dan Kampung Aiurak (Ulumutik Aiurak – di Lahurus sekarang, yang awalnya adalah perkampungan orang Melus tetapi setelah orang Melus diusir, tempat ini kemudian dihuni orang Leoklaran). Orang Leoklaran di beberapa perkampungan di Dualasi-Lasiolat akhirnya berhasil diusir, dan mereka itu terutama berlari ke wilayah Lakekun dan ke Alas. Sebagian lagi berlari ke Tasi (ke Silawan dan sekitarnya). Hanya sebagian kecil orang Leoklaran yang tidak diusir (terutama karena mereka sudah kawin mawin dengan orang Leowes), tetapi mereka ini kemudian pergi menetap di Sanirin (dekat Ai Kamelin Ren, di mana orang Melus masih menetap), tetapi ada kelompok lain yang tetap menetap di Dualasi. Kelompok Sanirin kemudian pindah ke Beikoti lalu ke Lenok Fehan, tetapi karena merasa tidak aman sebagian dari merekapun akhirnya pergi ke Leun (Nubelu) dan menetap di sana. Hanya sebagian turunan mereka yang kembali dan menetap di Lahurus dan sekitarnya, mereka ini kemudian menamakan diri Leoklaran uma (ema) tur hein. Yang di Dualasi kemudian pergi menetap di Bernaba, dan turunan mereka akhirnya mendirikan kembali suku Leoklaran Bernaba.

Konon, setelah pristiwa Ulumutik Aiurak tahap kedua (pertama: pengusiran orang Melus, kedua: pengusiran leluhur Leoklaran), bencana kekeringan melanda wilayah Fialaran, sampai dikatakan bahwa "hare abut la susu rai, batar la samara mean, Ai kamelin la isin, wani la no wen" (akar padi tidak menyusup ke dalam tanah dan jagung tidak berbunga – cendana tidak ada hasil dan lebah tidak ada madu). Kemudian diketahui penyebab masalah itu, yakni bahwa karena "ema rai nain" sudah diusir dan mereka membawa serta foho bot rai bot atau lulik manaran bot yang dianggap menjadi benda pusaka yang memberi berkah kepada penghuni wilayah ini. Adapun kelompok yang berlari ke Alas membawa serta pusaka keramat itu. Kelompok ini kemudian diundang kembali ke Fialaran, dan mereka ini diterima kembali secara adat "hisik baku hikar" oleh Nai Lafuli Nain di Lafuli (Fatluli). Mereka kemudian menetap di We Sosar di kaki gunung Lakaan dekat Haliketu Aina. Sebagian dari mereka kemudian kembali ke Alas karena merasa tidak kerasan. Sebagian tetap menetap di sana, kemudian mereka berpindah juga ke Lahurus dan mendirikan kembali Suku Leoklaran (uma hadak). Kepada mereka kemudian dibagikan kembali rai mara no We leon (sawah dan landang) agar mereka tetap menetap di sini untuk menjaga foho bot rai bot (pusaka keramat leluhur) dan sumber air Lahurus.

von BEREK Manuamanlakaan - veröffentlicht in: Sejarah/Geschichte
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen
Freitag, 24. juli 2009

 MARI BELAJAR BAHASA TETUN

MAI HANORIN LIA TETUN

1. Kata Ganti Orang:

Tunggal: S(sebagaiSubjek)-G(Genetif/kepunyaa)-D(Dativ)-A (Akusativ/Objek):

  1. hau' – hau kan – ba hau – hau

  2. o – o kan – ba o – o

  3. nia – nia kan – ba nia – nia

Jamak:

  1. ami – ami kan – ba ami – ami

  2. emi – emi kan – ba emi – emi

  3. sia – sia kan – ba sia – sia

2. Kata Kerja dan Perubahannya:

Secara umum kata kerja dalam bahasa tetun mengalami deklinasi sebagai berikut (dengan contoh pada kata ha: makan atau tanis: menangis):


Tunggal:

Kel. I. Hau tanis – o tanis – nia tanis

Kel. II. Hau ka – o ma – nia na


Jamak:

Kel. I. ami tanis – emi tanis – sia tanis

Kel. II. ami ha – emi ha – sia na


Dari contoh di atas, ada dua kata kerja sesuai deklinasinya bisa digolongkan dalam dua bagian:

  1. Yang tetap dalam bentuk infinitif dalam arti tidak mengalami perubahan seperti pada kata: tanis, tun, lao', sae', tuku, tae', toba, rona, rei', dale, kuru, monu, nani, tolak, sama, tatei, futu, kesi, hoo', ta.

  2. Yang mengalami perubahan seperti: hare, halai, haris, hakotu, ha, hemu, hein, hahonu, hasae', halai, hameno, hadahur, habusik, hanoin, hanorin, hakati. Kata-kat dalam kelompok ini paada umumnya dimulai dengan: „ha-“ Bentuk perubahannya pun mengikuti pola umum untuk kelompok II di atas:

    hau kare – o mare – nia nare – ami hare – emi hare – sia nare.

    Hau kalai – o malai – nia nalai – ami halai – emi halai – sia nalai.

    Hau kanoin – o manoin – nia nanoin – ami hanoin – emi hanoin – sia nanoin.

    Tunggal:

    I. „H“ diganti „K“

    II. diganti „M“

    III. diganti „N“

Jamak:

I. dan II. Tetap seperti pada bentuk infinitif

III. Diganti „N“ sama seperti pada orang ke-3 tunggal.

3. Kata Benda

A. Jenis kelamin:

Dalam bahasa Tetun tidak dikenal pembagia kata benda menurut Jenis kelamin seperti dalam bahasa Yunani, Latin atau Jerman. Sehingga artikel khusus pun dengan sendirinya tidak di kenal. Yang memiliki perbedaan jenis kelamin hanyalah pada hewan dan manusia. Untuk membedakan antara yang lelaki/jantan (Tetun: Mane/aman) dan yang perempuan/betina (Tetun: feto/inan) biasanya keterangan itu ditambahkan saja pada kata benda bersangkutan.

Contoh:

anak lelaki: oan mane, manusia lelaki: ema mane.

Ayam jantan: manu aman, kambing jantan: bibi aman.


Anak perempuan: aon feto, manusia perempuan: ema feto.

Ayam betina: manu inan, kambing betina: bibi inan.


B. Jumlah: Tunggal dan Jamak:

Semua kata benda disebut dalam bentuk tunggal. Kalau yang dimaksudkan adalah bentuk jamaknnya, maka biasanya hanya ditambahkan dengan jumlah atau kata „wai'n“ atau wai'n bot“. Contoh:

banyak orang: ema wai'n – sangat banyak orang: ema wai'n bot.

lima orang: ema nai'n lima – lima ekor kambing: bibi matan lima.


4. Kata Tanya:

Untuk menanyakan orang (siapa): se

Menanyakan benda (apa): sa

Untuk kepunyaan/milik: se nia kan atau bentuk pendek: se nian

Waktu: kapan: wain hira

Jumlah: dengan hira == manusia: nai'n hira – binatang: matan hira – pohon: hun hira



 


BESAMBUNG.....................




 

von BEREK Manuamanlakaan - veröffentlicht in: Budaya dan Agama di Timor
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen
Freitag, 24. juli 2009
 

LEBO AMA NO LEBO INA


Ba hori uluk an no ema nain rua mak fen no la'en. Sia rua moris nodi diak no dame, kareis iha alas bot ida. Feto ne'e nian naran Lebo Ina, nia tur iha uma dei, tan nia serwisu soru tais. Nian la'en naran Lebo Ama mak serwisu nalo to'os, tan nia nia nein dala wain iha to'os ba. Ba oras nia karawa sia mos sei bele dale hanesan ema sia. Karawa lubun ida moris halik sian uma. Ba oras Lebo Ama iha to'os ba, karawa aman bot sia mai nodi faur no namamar nima-nimak Lebo Ina, nebe nia atu soe nian la'en Lebo Ama. Mais Lebo Ina kaer metis ba sa mak nia hori uluk nameno tian no nia nakara nia kan la'en tebe-tebes. Nia la tuir ohin karawa sian faur hamamar ne'e. Ba oras nian la'en fila nosi to'os mai, nia katak nasara sa mak karawa aman bot sia nalo ba nia nima-nimak ne'e. Hotu tia sia nain rua nanoin buka dalan nodi nalatu karawa notar lalek sia ne'e. To'o ikus sia nanoin kona makerek ida mak diak basuk nodi no'o no nalatu karawa sia ne'e. Ba sesawan ida Lebo Ama la lao ba to'os. Nia lotin an nafati ba he'in fafuhun, nalo an hanesan be nia mate tian. Lebo Ina falun nia nodi biti ida, iha biti nee' laran lebi ina falon no ai dona bot ida. Hanesan wai-wain karawa sia ne'e mai nikar atu feur namamar Lebo Ina. Mais Lebo ina nalo neon at bosok no nalo nia oin hanesan ema mak kona susar bot ida. Nia mos tanis bosok hanesan ema mak don mate ida. Tan nia karawa sia nusu, tan sa mak nian neon at los. Lebo Ina simu nodi tanis, â??haun la'en foin mate. Hau kalon emi tulun hau lai atu hakoi haun laenâ??. Rona nola nia karawa sia neon diak lolos. Sia sau' leur Lebo Ina nodi tanis namutu nodi don tuir Lebo Ama. Tanis hotu tia nia nauka karawa sia kee' rate ida mak luan no klea'n tebes hodi hakoi Leb Ama halo dia-diak. Mais Lebo Ina tama ba uma laran nodi nono we ba sian sasanan hotu-hotu nalo nakali lolos. Ba oras rate nee' klean basuk tia, nia katak ba karawa sia, â??mai ita hulan hola Lebo Ama hodi hakoi laiâ??. Karawa sia nee tane malu nulan Lebe Ama mak nia falun iha bita laran nee'. Too' rate ibun ba, Lebo Ina katak ba karawa sia, â??Emi hotu-hotu tama ba rate laran hodi simu hola maten mak hau lolo ba emiâ??. Karawa sia nalo turi sa mak nia katak nee'. Ba oras karawa sia tama ba rate laran tia, nia kore nasai nola Lebo Ama mak iha bita fafalun laran nee', hotu nia tama uma laran ba foti nola we manas nakalik sia nee'. Lebo Ina duar we manas nakalik sia nee tama ba rate laran. We manas nee' lobot nola karawa sia nee' too' mate. Karawa balu atu nalai sai kokon, mais Lebo Ama nein no nakbakuk saka sia nodi ohin ai dona nee'. Karawa sia nee' mate hotu, hela mesan karawa oan rua mak noi' nare hein die nosi ai fafuhun ba. Karawa oan rua nee' mak nabea nika r karawa sia too' ohin loron nee'.

von BEREK Manuamanlakaan - veröffentlicht in: Budaya dan Agama di Timor
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen
Freitag, 24. juli 2009


I AM LOOKING FOR SOME INFORMATIONS

ABOUT A BASTION ON THE SLOPE OF LAKAAN MONTAIN

(Near bei Lahurus, Belu - Middle -Timor, Indonesien)

 

On the Kota Mutin Hill (on the slope of the mount Lakaan) there are ruins of a bastion and two cannons. The people who stay around this mountain don't know who built that bastion and put those cannons. My Grandfather Baltasar, who born in 1913 said that he'd heard from his grandfather (my great great grandfather), that a long time ago Portuguese had stayed there to control the sandalwood, honey and beeswax -trade in middle Timor. We know the hill as “Kota Mutin Ren”, it means: “the hill of the white people's town”. That hill was a town for the Portuguese and it had functioned as a Bastion to protect them form the local kings and the traders from Holland.

 

On 1995 I did research about the bastion, but except the cross on the cannon I didn't find any other information. Because of that I'm writing on Internet. I hope that someone reads it and gives me some information about the bastion. I have also two photos from this ruins, that i took in September 2008.



 


----------------------------------------*********************------------------------------------------------


 

 

DIE SUCHE NACH DER INFORMATION ÜBER EINE BURG AUF LAKAAN BERG

(in der Nähe von Lahurus, Belu – Mittel Timor – Indonesien)

 

Auf dem Gipfel von Kota Mutin Hügel (Lakaan Berg) gibt es die Ruinen einer Burg und zwei Kanonen. Für die Bevölkerung ist die Burg bekannt mit dem Namen „Benteng Kota Mutin“ Kota Mutin bedeutet: „die Stadt der Weißen“ Mein Großvater sagte mir, dass er von seinem Vater (meinem Urgroßvater) gehört hat, dass die Portugiesen früher dort gewohnt haben. Dieser Hügel war ihr ein Zentrum zu kontrollieren Sandelholz- und Honighandel in Mittel-Timor und als Schutz gegen die einheimische Fürsten und die Holländer.

 

Im Jahr 1955 habe ich eine Forschung über diese Burg gemacht. Außer dem Kreuz auf einem Kanon habe ich keine andere Information gefunden. Deswegen schreibe ich im Internet, ich denke, vielleicht liest jemand diese, und dann vielleicht ist er bereit mir einige Information zu geben. Ich habe auch zwei Fotos, die ich im September 2008 gemacht habe.

---------------------------------------********************---------------------------------------------------

INFORMASI MENGENAI BENTENG KOTA MUTIN DI LERENG GUNUNG LAKAAN

(di dekat Lahurus, Kabupaten Belu, Timor Barat-Indonesia)

 

Di atas bukit Kota Mutin (di lereng Gunung Lakaan) masih terdapat sisa-sisa dari satu benteng dengan dua buah meriam. Penduduk di sekitar daerah itu mengenalnya dengan nama „benteng Kota Mutin“. Bukit itu juga disebut „kota Mutin Ren“ dalam bahasa tetun, yang berarti „bukit tempat perkampungan orang kulit putih“. Seorang Kakek saya pernah menceritakan bahwa dia pernah mendengar dari bapaknya, bahwa dulu orang Portugis pernah tinggal di sana.

Bagi orang Portugis, benteng Kota mutin merupakan pusat untuk mengontrol perdagangan Cendana, Madu dan Lilin di Timor bagian tengah. Tempat itu juga merupakan benteng perlindungan dan pertahanan bagi mereka untuk meghadapi para raja lokal dan orang-orang Belanda.

 

Pada tahun 1995 saya pernah membuat suatu penelitian di sana, tetapi selain salib yang diukir di atas meriam, tidak ditemukan Informasi lain dari benteng ataupun meriam itu. Karena itu saya menulis berita ini di Internet, mungkin ada yang membacanya, dan bisa membantu saya dengan memberikan sedikit informasi tentang benten itu.

Ada juga dua foto yang saya buat tahun lalu.


von BEREK Manuamanlakaan - veröffentlicht in: Sejarah/Geschichte
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen
Montag, 6. april 2009

KEKURANGAN IMAM DAN KEBUTUHAN YANG TINGGI AKAN PELAYANAN SAKRAMEN:
GAMBARAN SITUASI PANGGILAN DI EROPA DAN JALAN KELUAR YANG DITEMPUH

(Oleh: Puplius Meinrad Buru)

 

Dalam ensiklikanya  Ecclesia de Eucharistia  Paus Yohannes Paulus II sangat menekankan pentingnya perayaan ekaristi bagi umat beriman. Ensiklika ini mengingatkan umat beriman akan kewajibannya untuk mengikuti perayaan ekaristi pada hari Minggu, sementara para uskup diingatkan akan kewajibannya untuk mengupayakan  kemudahan bagi umatnya untuk mengambil bagian dalam perayaan ekaristi. Di negara-negara dengan tradisi kekatolikan yang tua (terutama di Eropa), bagi kebanyakan orang penerimaan sakramen tertentu masih dianggap sebagai bagian hakiki dari ciri kekatolikan mereka. Hampir semua pelayanan sakraman tersebut selalu dihubungakan dengan pribadi yang terthabis atau seorang imam. Persoalan yang muncul sekarang adalah bahwa jumlah imam tidak lagi mencukupi kebutuhan akan pelayanan sakramen. Hal ini terutama disebabkan oleh kurangnya minat pada kaum muda untuk menjadi imam, dan  ini bukan saja persoalan yang dihadapi gereja di Eropa, melainkan telah menjadi suatu kecemasa gereja universal. Di Austria misalnya, pada tahun 1962 masih ada 172 imam diosesan dan biarawan yang dithabiskan. Data pada tahun 2003 hanya 37 orang, dan 2005 hanya 32 orang. Jumlah ini terus menurun setiap tahunnya, sementara umur rata-rata para imam adalah di atas 50 tahun. Di Keuskupan agung Wina saja ada sekitar 250 paroki tanpa imam yang menetap di paroki. (Bdk. Eine Kirche, die Zukunft hat, H. Krätzl, s. 24).

Meski panggilan menjadi imam terus menurun, ada fenomena menarik bahwa minat belajar teologi di beberapa negara di Eropa terus meningkat. Hal ini tentu merupakan suatu tantangan dan peluang tersendiri bagi karya pastoral. Sebuah contoh dari Austria: pada Fakultas Teologi Katolik Universitas Wina, saat ini ada sekitar 1.200 mahasiswa yang belajar teologi.  (Perbandingan: sekitar 50 tahun lalu hanya ada sekitar 200 orang yang belajar teologi dan dari jumlah ini sekitar 180 orang yang menjadi imam). Dari sekitar 1.200 mahasiswa ini, hanya sekitar 30-40 orang yang ingin menjadi imam, sementara sebagian besar belajar teologi karena ingin menjadi guru agama, sebagian karena ingin bekerja di gereja (sebagai sekretris paroki, pastoral asisten, pembimbing kaum muda). Banyak pula yang belajar teologi hanya karena minat semata. Pertanyaan utama di sini, mengapa ada begitu banyak yang belajar teologi tetapi hanya sedikit yang mau menjadi imam? Ada dua hal yang menjadi alasan utama, mengapa kebanyakan dari mereka tidak ingin menjadi imam. Pertama, situasi gereja dewasa ini. Menurut mereka, masa depan gereja tidak pasti. Gereja selalu berada dalam dilema, terutama berhadapan dengan ajaran dan tuntutan moralnya sendiri yang harus diperjuangkan oleh seorang imam. Soal hidup selibat menjadi alasan utama lainnya, di mana hidup selibat dianggap tidak lagi selaras zaman, bahkan jumlah umat yang menolak hidup selibat bagi para imam semakin bertambah. Kebanyakan merasa keputusannya untuk menjadi imam ditantang keluarga dan sahabat kenalan atas dasar hidup selibat, sehingga mereka merasa lebih bebas berkarya sebagai teolog awam yang bisa membantu karya-karya pastoral, tanpa harus menjadi imam untuk seumur hidup.  Demikian presentasi yang dibawakan Prof. DR. Paul M. Zulehner (Dosen Pastoral Teologi universitas Wina) dalam satu  pertemuan tanggal 10-11 November 2006 pada Akademi Katolik Bayern (Bavaria). Mengamati analisa di atas, dapat dikatakan bahwa meningkatnya minat untuk belajar teologi merupakan suatu tanda zaman yang perlu didalami oleh para pejabat gereja. Ini merupakan potensi besar dari pihak umat dalam karya pastoral. Tentu hal ini perlu menjadi tema dalam diskusi para teolog dan pejabat gereja, untuk mempertimbangkan, apakah mungkin dihidupkan lagi model-model pelayanan seperti dalam gereja perdana. Hal menarik lainnya, bahwa di Eropa (misalnya di keuskupan agung Wina-Austria) banyak pria dewasa yang memutuskan menjadi diakon tetap. Pada tagl 2 mei 2006 kardinal Schöborn (Uskup Agung Wina) menabiskan 18 diakon tetap. Jumlah ini semakin bertambah setiap tahunnya. Melihat kenyataan ini banyak umat yang bertanya: apakah para diakon ini tidak bisa ditabiskan menjadi imam, hanya karena mereka berkeluarga?

 

Untuk mengatasi persoalan kurangnya imam dan krisis pangiilan ini, banyak keuskupan di Eropa berusaha mencari jalan keluar yang dianggap efisien. Pada umunya struktur organisasi gereja mulai dirombak, disesuaikan dengan jumlah imam yang dimiliki tiap keuskupan. Di beberapa keuskupan di Jerman, Prancis dan Austria sedang dicoba jalan keluar ini: beberapa paroki digabungkan dan dilayani oleh seorang imam dari satu paroki sentral. Ia biasanya dibantu tim pastoral dari kaum awam. Jalan keluar ini dirasa selaras dengan jumlah umat katolik yang semakin menurun, serta dipermudah oleh sarana transportasi yang sangat baik. Tetapi hal ini punya dampak negatifnya, dan telah menjadi tema penting dalam debat para ahli teologi pastoral. Mereka punya kecemasan, bahwa dalam penggabungan seperti ini, komunitas kecil sebagai gereja nyata akan kehilangan jati dirinya; umat perorangan sebagai pribadi riil akan tenggelam dalam kelompok besar. Mereka lebih mengutamakan kemandirian komunitas kecil sebagai tempat perayaan liturgi yang hidup, sebagi gereja nyata, tempat di mana umat lebih merasakan kedekatan di antara mereka, dan di sana mereka sehati sejiwa merayakan kegembiraan serta saling menghibur dalam kesedihaan mereka. Dalam suatu perayaan liturgi di komunitas kecil, umat merasa dirinya lebih disapa, mereka merasa lebih bertanggung jawab dan lebih aktif menjalankan peran mereka.

Dalam bidang pastoral orang sakit muncul fenomena baru bahwa di kebanyakan paroki ada kerjasama yang bagus antara pastor paroki, pastoral asistennya dengan tim pastoral dari kaum awam. Mereka membentuk satu tim kerja, membagi tugas di antara mereka untuk mengunjungi orang sakit, melakukan pembicaran dengan orang sakit, memberikan nasihat bila dibutuhkan ataupun berdoa bersama orang sakit. Hanya dalam hubungan dengan pelayanan sakramen seperti pemberian minyak suci dan pengakuan yang menjadi tugas pastor paroki. Kaum awam ini bisa saja terdiri dari seorang dokter, psikolog, ahli teologi, guru agama ataupun anggota paroki lain yang punya kompetensi dan pengalaman. Persiapan sambut baru dan karisma juga biasanya dilakukan oleh tim pastoral paroki, guru agama atau pembimbing kaum muda tanpa banyak menyibukkan pastor paroki. Semua mereka ini bekerja secara sukarela. Hal ini selain bertujuan untuk membantu sang imam untuk meningkatkan pelayanan pastoral, juga merupakan wujut nyata keterlibatan kaum awam dalam kehidupan menggereja.  

Sementara itu ada kenyataan lain bahwa jumlah umat yang menerima imam yang berkeluarga semakin meningkat. Dengan adanya kemungkinan studi lanjut bagi para imam dari gereja katolik ritus timur, jumlah para imam katolik ritus timur di Wina semakin bertambah. Status mereka tidak dipersoalkan lagi oleh umat, sekalipun mereka hidup berkeluarga, bahkan di Wina ada imam dari gereja katolik Yunani/Rumenia yang bekerja sekaligus sebagai pastor paroki/pastor pembantu di paroki beritus latin. Hukum gereja katolik ritus timur, karena tradisinya, pria yang menikah/berkeluarga diizinkan untuk dithabiskan menjadi imam. Hal ini tidak diizinkan dalan hukum gereja katolik ritus Latin, meskipun yang mengeluarkan aturan ini adalah pribadi yang sama, Paus di Roma. Sejak Paus Pius XII telah diizinkan bahwa para pastor dari gereja protestan yang ingin menjadi Katolik dan mau dithabiskan, boleh tetap berkeluarga setelah ditabiskam menjadi imam. Hal inipun telah terjadi di banyak keuskupan di Eropa. Kenyataan terakhir inipun telah memicu diskusi yang luas di kalangan ahli teologi, ahli pastoral dan pejabat gereja untuk memikirkan kemungkinan adanya model-model lain dalam imamat, termasuk menerapkan kembali bentuk-bentuk pelayanan seperti pada gereja perdana. Rupanya doa untuk memohon panggilan hidup membiara atau untuk menjadi imam tidak cukup untuk mengatasi krisis ini. Ada banyak anjuran untuk menghapus kewajiban hidup selibat bagi para imam diosesan (projo). Tetapi  gereja sendiri  perlu terbuka untuk memahami perkembangan zaman termasuk terbuka untuk memahmi bagaimana  cara Tuhan memanggil manusia untuk melayani atarnya.

 

 

 

von BEREK Manuamanlakaan - veröffentlicht in: Agama - umum
Kommentar hinzufügen - Kommentare () - empfehlen

Profil

  • : BEREK Manuamanlakaan
  • manuamanlakaan
  • : männlich
  • : 21.01.1978
  • : Austria Europe Vienna indinesien Timor
  • : student ledig abenteuer
  • : Puplius M. Buru,sedang belajar Theologi pada universitas Wina-Austria. Alamat kontak: pupliusmeinrad@yahoo.com

Suchen

Erstellen Sie einen Blog auf de.over-blog.com - Kontakt - Nutzungsbedingungen - Missbrauch melden